Berita  

Pekerja PBB di Palestina Tewas Akibat Serangan Israel

perang Hamas-Israel
Ilustrasi perang Hamas-Israel (Foto:Reuters)

SERAMBIMUSLIM.COM – Serangan udara Israel baru-baru ini menelan korban lebih dari 70 anggota keluarga besar, termasuk seorang pekerja bantuan PBB.

Dalam tragedi ini, Issam al-Mughrabi (56), seorang pekerja bantuan PBB, menjadi salah satu korban yang tak terelakkan. Sang istri, kelima anaknya, dan beberapa kerabat lainnya juga menyusul meninggal dunia akibat serangan udara yang mengguncang dekat kota Gaza.

Hilangnya Issam dan keluarganya membawa dampak mendalam, seperti yang diutarakan oleh administrator UNDP, Achim Steiner, seperti yang dikutip dari The Guardian.

Dalam pernyataannya, Steiner menegaskan bahwa PBB dan warga sipil bukanlah target yang dikehendaki.

“PBB dan warga sipil di Gaza bukanlah sasaran,” ujarnya, sambil mendesak perlunya gencatan senjata segera di Gaza.

“Perang ini harus diakhiri. Tidak boleh ada lagi keluarga yang harus menanggung rasa sakit dan penderitaan seperti yang dialami keluarga Issam dan banyak lainnya,” tambahnya.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonie Gueterres, menyoroti bahwa jumlah korban dalam serangan ini merupakan yang tertinggi dalam sejarah PBB.

Dia mengungkapkan bahwa rata-rata satu atau dua pegawai PBB tewas setiap hari di Gaza akibat agresi Israel, dengan total korban lebih dari 130 orang. Angka ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah PBB.

Gueterres juga memberi peringatan bahwa memfasilitasi pasokan lebih lanjut melintasi perbatasan Gaza hanya merupakan tahap awal untuk menghindari risiko kelaparan dan epidemi mematikan.

“Banyak orang mengukur efektivitas operasi kemanusiaan di Gaza berdasarkan jumlah truk dari Bulan Sabit Merah Mesir, PBB, dan mitra kami yang diizinkan menurunkan bantuan melintasi perbatasan,” kata Gueterres.

Dia menekankan pentingnya memastikan distribusi bantuan yang efektif di Gaza, yang sama-sama krusial dengan keamanan staf, lingkungan kerja yang aman, kemampuan logistik, dan pemulihan aktivitas komersial yang masih minim saat ini.

Masalah logistik dan keterbatasan kapasitas kendaraan untuk pengiriman menjadi hambatan utama, dengan banyak truk bantuan yang mengalami kerusakan atau terhambat oleh otoritas Israel.

“Kami memiliki jumlah truk terbatas dan tidak mencukupi untuk melakukan tugas ini,” kata Gueterres, menyoroti kendala yang signifikan dalam operasi bantuan.

Dia menekankan bahwa satu-satunya jalan untuk memberikan bantuan besar yang memadai untuk kebutuhan mendesak masyarakat Gaza adalah melalui gencatan senjata kemanusiaan.