SerambiMuslim.com - Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, memastikan persiapan penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi berjalan lancar.
Meski situasi geopolitik di Timur Tengah masih memanas, pemerintah menyatakan belum ada kendala berarti dalam tahapan teknis pemberangkatan jamaah.
“Kami mempersiapkan beberapa skenario, karena kemungkinan ada beberapa negara yang mungkin tidak mengirim jamaahnya,” ujar Dahnil dalam acara Konsolidasi Perhajian dan Umrah di Gedung Utama Grand El Hajj Asrama Haji Banten, Kota Tangerang, Selasa, 3 Maret 2026.
Ia menegaskan, hingga awal Maret ini belum terdapat penundaan maupun gangguan dalam proses persiapan.
“Alhamdulillah sampai dengan detik ini persiapan haji kita belum terkendala sama sekali. Belum ada delay, belum ada gangguan,” katanya.
Menurut dia, pemerintah tahun ini menerapkan pola kerja lebih dini dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya persiapan dikebut setelah Idulfitri, kini sebagian besar aspek teknis telah hampir rampung.
“Saat ini sudah 95 persen persiapannya, baik itu katering, hotel, transportasi, penerbangan, semua perangkat penyelenggaraan sudah beres, termasuk pembayaran,” jelasnya.
Dahnil menambahkan, kepastian pembayaran menjadi faktor krusial. Ia menyinggung pengalaman saat pandemi COVID-19, ketika pembatalan keberangkatan terjadi sebelum seluruh proses finansial terselesaikan.
“Tahun ini semuanya sudah beres. Kami berkeyakinan penyelenggaraan haji 2026 atau 1447 H ini mudah-mudahan tidak terdampak. Sehingga seluruh jamaah haji Indonesia bisa diberangkatkan sesuai jadwal,” tegasnya.
Dampak Konflik Timur Tengah
Sebagaimana diketahui, ketegangan di kawasan meningkat setelah serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran menyusul gagalnya perundingan nuklir. Eskalasi konflik tersebut turut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan, termasuk Arab Saudi sebagai tuan rumah ibadah haji. Meski demikian, pemerintah Indonesia memastikan seluruh tahapan persiapan tetap berjalan sesuai rencana.
Dalam kesempatan itu, Dahnil juga meminta dukungan dari para pemangku kepentingan perhajian di Banten. Tahun ini, sebanyak 8.995 jamaah asal Provinsi Banten dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci.
“Kami membutuhkan doa seluruh stakeholder perhajian Banten supaya penyelenggaraan haji 2026 berjalan sebagaimana mestinya, dan 8.995 jamaah haji Banten bisa berangkat dan kembali dengan selamat,” ujarnya.
Khawatir Konflik Timur Tengah Berkepanjangan
Secara terpisah, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Jawa Tengah, Fitriyanto, berharap konflik di Timur Tengah tidak berlangsung lama karena berpotensi mengganggu penyelenggaraan haji.
“Kita berharap semoga saja segera selesai. Kalau nanti berkepanjangan, tentu akan berdampak ke penyelenggaraan ibadah haji, karena jamaah tinggal dua bulan lagi harus kita berangkatkan,” kata Fitriyanto, Senin, 2 Maret 2026.
Ia menilai, jika terjadi penundaan, dampaknya akan meluas ke berbagai sektor pendukung.
“Kalau nanti berdampak ke penyelenggaraan haji, otomatis hajinya mundur setahun lagi. Ini tentu akan berdampak sistemik: antrean jamaah, akomodasi, katering, dan lainnya yang sudah dibayar di Arab Saudi,” ujarnya.
Data Kanwil menyebutkan, jumlah calon jamaah haji asal Jawa Tengah yang masuk daftar tunggu mencapai 911 ribu orang, tertinggi kedua secara nasional setelah Jawa Timur. Masa tunggu keberangkatan di provinsi tersebut saat ini mencapai 26 tahun.
Selain itu, Fitriyanto juga mengimbau masyarakat yang berencana menunaikan ibadah umrah dalam waktu dekat untuk menunda perjalanan.
“Kami menegaskan kembali imbauan dari Kementerian Haji pusat, dari Pak Wamen, agar jamaah yang akan berangkat dalam waktu dekat menunda keberangkatan mengingat eskalasi di Timur Tengah,” katanya. ***