SerambiMuslim.com – Kelompok munafik kerap menampilkan diri sebagai bagian dari kaum Mukmin di hadapan Rasulullah SAW. Namun, di balik itu, mereka menyimpan kebencian terhadap Islam.
Ketika jauh dari kaum Muslimin, mereka justru menjelek-jelekkan ajaran tersebut.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Tanda orang munafik ada tiga: berdusta saat berbicara, mengingkari janji, dan berkhianat saat diberi amanah” (HR Bukhari).
Dalam sejarah Islam, sosok yang dikenal sebagai tokoh kaum munafik adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Ia merupakan figur terpandang di Madinah sebelum kedatangan Rasulullah SAW.
Saat Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah, Abdullah bin Ubay berupaya menghasut masyarakat agar menolak kaum Muhajirin. Ia khawatir kehilangan peluang menjadi pemimpin tunggal di wilayah tersebut.
Namun, upaya itu gagal. Mayoritas penduduk Madinah justru mendukung kepemimpinan Rasulullah SAW. Sejak itu, Abdullah memilih menyembunyikan permusuhannya dan menampilkan sikap seolah-olah beriman.
Menurut Sayyid Qutb dalam Tafsir fi Zhilal al-Qur’an, sejumlah ayat Alquran turun terkait perilaku Abdullah bin Ubay, termasuk dalam Surah Al-Munafiqun ayat 5–8.
Ketegangan yang melibatkan dirinya mencuat dalam peristiwa usai Perang Bani Musthaliq pada tahun keenam Hijriah. Saat itu, kaum Muslimin singgah di Muraisik untuk mengambil bekal air.
Perselisihan kecil antara seorang Muhajirin dan Anshar memicu keributan. Masing-masing pihak memanggil kelompoknya, memperkeruh situasi.
Melihat hal itu, Abdullah bin Ubay justru memperkeruh keadaan. Ia menyulut sentimen kelompok dengan mempertanyakan posisi kaum Muhajirin di Madinah.
Ia bahkan melontarkan pernyataan provokatif, “Jika kita kembali ke Madinah, yang kuat akan mengusir yang lemah.”
Ucapan itu didengar oleh Zaid bin Arqam, yang kemudian melaporkannya kepada Rasulullah SAW.
Mendengar laporan tersebut, Umar bin Khattab mengusulkan agar Abdullah bin Ubay dihukum mati. Namun, Rasulullah SAW menolak usulan tersebut.
Beliau memilih langkah strategis dengan segera membawa pasukan kembali ke Madinah guna meredam konflik.
Dalam perjalanan, Abdullah bin Ubay mencoba membela diri di hadapan Rasulullah SAW. Ia menyebut laporan Zaid sebagai kekeliruan.
Sesampainya di Madinah, kemarahan kaum Muslimin meningkat. Bahkan, anaknya sendiri, yang juga bernama Abdullah, menentang tindakan ayahnya.
Ia meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk menghukum ayahnya sendiri. Namun, Rasulullah SAW kembali menolak.
Beliau bersabda, “Kami akan tetap bersikap lemah lembut dan berbuat baik kepadanya selama ia hidup bersama kita.”
Sikap ini menjadi penegasan bahwa Rasulullah SAW mengedepankan stabilitas sosial di atas reaksi emosional.
Secara politik dan sosial, langkah tersebut efektif. Abdullah bin Ubay memang selamat secara fisik, tetapi reputasinya runtuh di hadapan masyarakat, termasuk dari kelompoknya sendiri.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa menghadapi kemunafikan tidak selalu dengan konfrontasi terbuka. Rasulullah SAW justru menempuh pendekatan yang lebih strategis dan berjangka panjang.
Pendekatan tersebut menekankan pengendalian diri, menjaga persatuan, serta menghindari konflik yang berpotensi merusak tatanan sosial umat. ***





