SerambiMuslim.com - Indonesia akan menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Asosiasi Imam Besar pada Agustus 2026. Forum tersebut akan mempertemukan ulama terkemuka dunia untuk memperkuat kerja sama global dalam mencegah radikalisme melalui pendekatan keilmuan dan dialog.
Rencana penyelenggaraan konferensi itu disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar saat menerima kunjungan Asisten Menteri Luar Negeri Australia, Matt Thistlethwaite, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu, 15 Juli 2026.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Presiden Australian National Imams Council (ANIC), Shady Alsuleiman, serta Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier.
"Insya Allah, bulan depan kami akan menyelenggarakan Konferensi Internasional Asosiasi Imam Besar. Konferensi tersebut akan dihadiri oleh banyak ulama terkemuka dunia, termasuk Imam Besar Masjidil Haram, Syekh Sudais, yang dijadwalkan menjadi pembicara utama," ujar Menag Nasaruddin Umar, dikutip dari laman Kemenag, Jumat, 17 Juli 2026.
Nasaruddin yang juga menjabat Imam Besar Masjid Istiqlal mengatakan, konferensi tersebut membawa misi memperkuat kolaborasi internasional dalam menangkal penyebaran paham radikal.
Menurutnya, upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan keilmuan, dialog, serta metodologi moderasi beragama yang selama ini dikembangkan Indonesia.
"Salah satu tujuan penyelenggaraan konferensi internasional yang akan kami adakan adalah membangun kerja sama global untuk mencegah berkembangnya radikalisme melalui pendekatan keilmuan, dialog, dan metodologi yang telah kami kembangkan di Indonesia," tuturnya.
Dalam pertemuan itu, Nasaruddin juga menunjukkan lukisan yang mengabadikan momen kebersamaannya dengan Paus Fransiskus kepada Matt Thistlethwaite. Ia menilai pengalaman Indonesia dalam mengembangkan moderasi beragama semakin mendapat perhatian dunia.
"Kami membangun cara pandang keislaman yang moderat. Banyak negara mengundang kami untuk berbagi pengalaman karena kami memiliki metodologi khusus dalam menjelaskan Islam dengan perspektif yang modern, tanpa meninggalkan nilai-nilai dasarnya," ungkap Menag.
Pilihan Lain